Sengketa Tanah Pasar Babadan

 

PASAR TRADISIONAL KLATEN
Pertanyakan Status Tanah, Pedagang Pasar Babadan Datangi Kantor Desa

Pedagang Pasar Babadan Klaten mendatangi Kantor Desa Teloyo untuk mempertanyakan status tanah pasar yang mereka tempati.

Harianjogja.com, KLATEN — Puluhan pedagang Pasar Babadan mendatangi kantor Desa Teloyo, Kecamatan Wonosari, Klaten, Selasa (13/6/2017). Kepada kepala desa, pedagang mempertanyakan soal status tanah pasar yang mereka tempati selama ini.

Kepala Desa Teloyo, Soedarto, mengatakan status tanah tersebut tengah menjadi sengketa antara Pemerintah Desa Teloyo dengan pemilik yang merasa memiliki Surat Hak Milik (SHM) atas tanah itu. Pemilik SHM menuntut agar tukar guling tanah yang terjadi pada 1967 dibatalkan. (Baca juga: Lahan Jadi Sengketa, Ratusan Pedagang Pasar Babadan Datangi PN Klaten)

“Pedagang datang untuk menanyakan status pasar. Katanya mereka enggak tahu,” kata Soedarto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Kamis (15/6/2017).

Soedarto menceritakan tanah Pasar Babadan merupakan hasil tukar guling dengan tanah kas Desa Teloyo di selatan Dukuh Karangmojo, Desa Kingkang, pada 1967. Ada tiga pemilik yang tanahnya ditukar guling dengan tanah kas desa, yakni Slamet Siswosuharjo, Suratno, dan Kartono Sujimin.

Namun, sekitar tahun 1974 terbit SHM dengan nomor 208 atas nama Suratno. Dalam SHM itu disebutkan Suratno berhak atas tanah seluas 1.700 meter yang kini menjadi kios Pasar Babadan.

Kemudian, pada 1986, terbit SHM dengan nomor 588 atas nama Slamet Siswosuharjo. Slamet disebutkan memiliki hak atas tanah seluas 2.500 meter persegi. “Atas dasar itulah dia minta balik karena merasa memiliki hak atas tanahnya,” ujar Soedarto.

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan